Senin, 11 Juni 2012

hm

Assalamu'alaikum wr.wb.

Jakarta, 16 Des 2010 18:57

Allah..mendengar kata itu saja hati saya seakan bergemuruh,entah kenapa air mata seakan tak kuasa tertahan..
Banyak sekali yang ingin saya curhatkan kepada Alah

Minggu, 10 Juni 2012

Zauji,inni uhibbuka fillah


Bismillah..

Menjalani kehidupan di larantuka, sebuah kota kecil di ujung timur flores, begitu menyenangkan. Mendampingi seseorang yang Allah amanahkan untuk saya dampingi, menemani perjuangannya selama di dunia. Mungkin beberapa orang memandang sebelah mata kepindahan saya dari kota yang ramai ke kota kecil seperti larantuka,,but honestly i'm happy.

Kota kecil ini menawarkan kedamaian, ketenangan..walaupun notabene larantuka adalah vatikan Indonesia, pusat katholik terbesar, tapi inilah pengalaman baru hidup menjadi minoritas muslim disini. Mengenal budaya dan agama penduduk asli. Tidak semua orang yang Allah berikan nikmat untuk menjelajahi bagian timur Indonesia. Pasti ada sesuatu yang Allah siapkan untuk diambil hikmah.

Hidup berdua dengan suami, menapaki kehidupan jauh dari keluarga besar sungguh menjadi gemblengan bagi hidup kami yang smoga bisa membuat kehidupan kami lebih berwarna dan lebih kuat menghantam badai. Hari-hari yang kami lalui menambah rasa sayang antara kami. Sayang karena Allah, cinta yang kami bangun bukan karena saya,bukan karena dia, tapi karena Allah. Jadi, apapun yang terjadi dalam kehidupan kami, bukan karena ketetapan saya ataupun dia,,tapi Allah. Allah lah yang meyiapkan alur cerita kehidupan makhlukNya. Jadi, tak perlu risau dengan apapun yang terjadi. Life must go on with long smile.. :D

Zauji, inni uhibbuka fillah. 




Minggu, 18 Maret 2012

Ukhuwah itu indah

Bismillaah.

Belum lama diri ini mengenal kalian. Hanya dalam hitungan bulan,,belum genap setahun kebersamaan kita. Kita merajut ukhuwah ini bersama-sama, dari pribadi-pribadi yang saling terlepas, menjadi saling mengikat. Ibarat benang-benang kecil,,kita pun membentuk suatu pola dalam hamparan kain dakwah. Membentuk pola yang indah laksana bunga-bunga kecil bertaburan dalam kain itu. Ukhuwah ini adalah rahmatullah.

لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
"...Walaupun kamu membelanjakan semua (kakayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka... (QS: Al-Anfal: 63)"

Dan ketika pola itu sudah terbentuk demikian indahnya, Allah menghendaki beberapa benang-benang untuk membentuk pola di bagian lain, tanpa merusak pola-pola yang sudah ada. Mengapa Allah memisahkan benang2 itu? Tentunya untuk membentuk pola lain yang akan membuat kain dakwah itu semakin indah. Bukan untuk merusak pola-pola yg sudah terbentuk. Dan kehendak Allah itu pasti yg terbaik, itu yang harus kita yakini.

Kesedihan itu wajar, sayang. Mungkin karena cintanya hati kita kepada saudari-saudari yang selama ini bersama-sama mencari nur Islam. Tapi jika kesedihan itu melampaui batas, apakah itu yang Allah harapkan? Allah ingin kita menjadi lebih kuat. Dan ketika Allah menghendaki sesuatu pada kita, Yakinlah, Allah telah menguatkan kita untuk menjalankan amanahNya. InsyaAllah.

Saudariku, jika waktunya sudah tiba, kalian pun akan membentuk pola-pola baru yang lebih indah. Walaupun kita sudah tak dalam 1 pola yg sama, tapi kita masih berada dalam 1 hamparan kain untuk membentuk pola-pola indah bersama benang2 yang lain.

"Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah." Para sahabat bertanya, "Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah." (Hadis yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, para perawinya tsiqat).

jadi teringat petikan nasyid dari Brother-untukmu teman
Mungkinkah kita terlupaTuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya

Salam ukhuwah.^^

Selasa, 08 November 2011

Episode baru

Bismillah..
tak terasa sudah lama tak mengepos di blog ini. Hm..sudah banyak catatan kehidupan yang terlewat,,dari penempatan, tempat baru, lingkungan baru, dan interaksi dengan orang-orang yang sama sekali tidak ku kenal.

Ya,kesibukan tak bisa dijadikan alasan untuk tidak menorehkan catatan. Walaupun jarang ngepos, tapi masih aktif nulis di diary.. :)

Sebenarnya banyak yang ingin sy ceritakan. Tapi harus benar2 menata kata agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda bagi pembacanya,,

Sebagai pembuka, mungkin sedikit akan kuceritakan tentang adaptasi di lingkungan baru.

Kotabumi, Lampung Utara, disinilah tempat saya berada saat ini. bekerja demi negara yang telah sy pijak dan tinggali selama ini. pertama kali mbuka amplop penempatan, bingung harus bagaimana. Entah harus senang atau sedih. Senang karena akhirnya pengumuman yang menakutkan itu keluar juga, sedih karena harus berpisah dengan saudara-saudara seperjuangan di Jakarta. Sy bekerja di instansi yang kantornya ada di seluruh pelosok negeri. So, kami harus siap ditempatkan dimana saja.

Sampai malam, sy dan teman2 masih berada di masjid alamanah kantor pusat. Bercerita panjang lebar menjelang perpisahan yanhg akan kami hadapi. bercerita tentang masalah2 kami, dan tak terasa malam pun menjelang. dan kamipun pulang untuk menyambut hari esok untuk pamit kepada keluarga masing-masing.

akhirnya tiba saatnya mengabdi di tempat baru. berkenalan dengan orang yang sama sekali asing bagi sy. Tp syyakin, Allah punya tujuan kenapa saya ditempatkan di tempat ini. Dan perjalanan hidup di kotabumi pun dimulai sejak 2 Juli 2011.

..to be continued

Jumat, 25 Maret 2011

Bulan Diklat

Assalamu'alaykum..
Salam untukmu wahai saudaraku,,

Bulan Maret 2011 bisa disebut bulan diklat. 3 minggu dipenuhi agenda diklat yang jaraknya lumayan jauh dari kos. berangkat subuh, pulang maghrib. Tak pernah bertemu dengan mentari ketika di kos. Berangkat pake busway (syukur2 kalo dapet tmpat duduk), pulang harus berdesakan di bis kota.

Awalnya memang berat, tetapi setelah terbiasa ternyata masih capek juga.Ya mungkin ini yg disebut perjuangan. Kita tak akan pernah bisa merasakan indahnya kesuksesan jika belum merasakan pahitnya penderitaan.Toh, semuanya sudah ada yang mengatur, iya to..
itu yang menguatkan saya, keyakinan bahwa semua kejadian itu tdak ada yang sia-sia. Allah pasti punya rencana di balik ini semua. Tinggal kitanya saja yang bisa menangkap sinyal Allah tersebut atau tidak.

Yang paling saya rasakan semrawut adalah manajemen waktu. Saya benar-benar merasa kelimpungan menyeimbangkan waktu untuk keperluan dunia dan keperluan akhirat. Soalnya kebanyakan waktu tersita untuk diklat dan transport. Waktu untuk berinteraksi dengan Allah pun berkurang drastis dibanding sebelum diklat.

Sempat agak depres ketika mnyadari belum bisa menyeimbangkan waktu. Untung hanya di pekan pertama. Akhirnya skarang alhamdulillah sudah bisa memanage sedemikian rupa shg semuanya tercover dg baik insyaallah.

Diklat tinggal sepekan lagi,,entah apa yang akan terjadi setelah itu. Banyak rumor yang beredar bahwa akan ada penempatan. Entah mengapa,saya koq tidak was-was ya?padahal dulu denger kata penempatan aja udah langsung heboh.
Tenang aja, Allah Maha Tahu koq, dimana tempat terbaik untuk kita semua. Tinggal yakin dan berserah diri aja padaNya. Insyaallah semuanya indah ketika kita selalu bersama Allah.

U're never alone..
Allah always with u..

:)

#BumiAllah,13 Rabiul Akhir 1432H

Rabu, 09 Februari 2011

Ada waktunya, kita merenung

Bismillahirrohmanirrohim,,

akhir-akhir ini banyak kejadian yang mengetuk hati saya. Yang memberi kesadaran, ternyata manusia itu begitu kecil di hadapan Allah, dan pada hakikatnya kita sbagai ciptaan akan kembali pada Pemilik jiwa dan ruh yang sepenuhnya, yaitu Allah.

Tapi banyak manusia yang lengah akan kehidupan dunia yang hanya sementara.
Padahal, kehidupan dunia itu hanya seperti alam mimpi yang hanya sekejap saja. Ya, benar-benar sekejap. Dan benar kata orang, yang nyata itu tampak lebih indah dibanding yang tak tampak (read: akhirat)

Pada suatu ketika, pikiran-pikiran ini tertuang dalam untaian kata yang tidak biasanya sy buat. Smoga bisa diambil manfaat,,

INGATLAH

Hari-hari berlalu seakan tak berizin pada kita
tiada terasa waktu yang begitu singkat itupun semakin mendekati akhir
Ya, akhir dimana kita harus kembali ke Robbul Izzati
Dzat yang Maha Suci yang mencipta manusia dengan penuh kesempurnaan

Diberikannya manusia akal, pikiran, dan perasaan
untuk membeda yg haq dan yg batil
Diberikannya manusia karunia dan nikmat
yang sepertinya tiada akhir

Tapi mengapa manusia begitu lengah dan bodoh
Dengan bodohnya manusia bangga dengan maksiat yg dilakoninya'
Dengan hebatnya manusia memilih jalan yg pada akhirnya akan membawa ke akhir yg pedih


Saudaraku,
pilihan-pilihan itu sudah tersedia
tinggal kita memilih akhir seperti apa

dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya
tak ada kemenangan tanpa kerja keras
tak ada kesuksesan yang diraih tanpa usaha
seperti itulah analogi manusia dengan surga

Akhir yang indah akan kita raih dengan perjuangan
perjuangan menegakan agama Allah di bumi ini
perjuangan menghidupkan sunnah rosul sebagai bagian hidup kita

Dan ketika waktu itu datang
sudah siapkah kita bertemu dengan Robb kita
Robb yg tiada hentinya menunjukkan KasihNya pada kita
Robb yang senantiasa melindungi kita

Tapi kita tak membalasNya dengan setimpal
tak melakukan apa yang diperintahNya
Memang,
Dia tak membutuhkan apapun dari kita
Tapi apakah pantas
kita sebagai ciptaan dengan sombongnya
berjalan angkuh di muka bumi
tanpa mengindahkanNya sedikit pun

Ingatlah.
Yaumul hisab itu pasti datang.
Ya, pasti datang.
jangan pernah ragu akan itu

Dan semua amal kita, dosa kita akan diperhitungkan
tak ada yang luput sedikitpun.

Duhai Robbku,,
Semoga Yaumul Hisab merupakan Yaum yng terindah bagi kami
Yaum dimana kami tersenyum dengan muka bercahaya
dan bertemu denganMu dalam keadaan terbaik kami.

---EAN----




Senin, 10 Januari 2011

Jodoh..hmm

Bismillahirrohmanirrohim,,

ada sebuah kisah yang mungkin bisa diambil hikmah. Saya mendapatkan kisah ini dari seorang teman, kisah seorang ustadz ternama di Indonesia.

Aku ingin terbang ke langit. Cuma sayang, sayapku cuma satu. Bagaimana kalau salah satu sayap itu adalah kamu?
Sebuah Kisah pengalaman Ust.Arifin Ilham tentang hakikat jodoh yang ia alami dan rasakan.

Kalau memang jodoh, tidak akan ke mana-mana! Begitu petuah orang tua. Kisah itulah yang terjadi pada pasangan Arifin dengan Wahyuniati Al-Waly, putri ketiga dari enam bersaudara dari mantan anggota DPR, Drs. Teuku Djamaris. Arifin pertama kali bertemu Yuni saat usai berceramah di kediaman keluarga H. Yusuf di Depok, bulan September 1997. Saat itu Arifin tengah duduk menunggu antrean makan, begitu juga Yuni. Jarak di antara mereka sekitar tiga-empat meter. Tiba-tiba di antara keduanya saling beradu pandang dan keduanya pun saling tersenyum. Hanya beberapa detik saja adu pandang itu berlangsung dan setelah itu mereka pun pulang. Setelah itu, mereka pun tidak pernah saling bertemu, apalagi saling berbicara.

Malam itu Yuni tidak pulang ke rumah orang tuanya di Kompleks DPR di Kalibata, karena ia memang berniat menginap di rumah sahabatnya, Fitrah, di Depok. Semula ia tidak berniat mengikuti pengajian itu, karena niatnya memang hanya ingin kangen-kangenan ke rumah sahabatnya yang sama-sama dari Padang itu. Karena itu, ia pun pergi ke pengajian dengan pakaian seadanya, yaitu celana jins, baju berwarna biru, dan kerudung putih. Tapi, ia tidak merasa rugi mendatangi pengajian itu. “Ustadnya masih muda, cakep, dan materi ceramahnya pun lumayan menarik,” kenangnya.

Meski yakin matanya tidak salah saat melihat kecantikan gadis itu, Arifin tidak mau mengumbar perasaannya. Ia tak berusaha mencari tahu siapa dan dari mana gadis itu. Ia biarkan kehidupannya mengalir sesuai kehendak-Nya. Sebagai makhluk yang berusaha menyerahkan seluruh kehidupannya hanya untuk Allah, dalam urusan jodoh pun ia pasrahkan seutuhnya kepada Sang Mahakuasa. Setiap malam dia bangun kemudian salat tahajud dan berserah diri kepada-Nya.

Sejak masih kuliah di Universitas Nasional, kemudian lulus kuliah, dan selanjutnya menjadi dosen di Universitas Borobudur, sudah beberapa kali ia berteman dengan wanita. Tapi, sejauh itu selalu saja gagal sampai ke pelaminan.

Hari-hari pun berjalan, ternyata Tuhan belum pula menunjukkan tanda-tanda akan hadirnya seorang pujaan hati. Suatu hari, ada salah seorang temannya, Hasan Sandi, yang menawarinya berkenalan dengan seorang gadis. Katanya, “Ustad Arifin... mau tidak kalau saya kenalkan dengan seorang gadis. Dia seorang putri ulama.” “Mau, anaknya tinggal di mana?” Arifin balik bertanya. “Di Kalibata. Tapi, lebih baik kita ketemu di tempat lain saja, deh.”

Suatu hari di bulan Februari 1998 Hasan menghubungi Arifin lagi. Ia mengundang Arifin untuk memberikan ceramah dalam acara syukuran menempati rumah baru. “Nanti saya kenalkan sekalian dengan gadis itu,” kata Hasan. Saat memasuki rumah itu, Arifin kaget ketika melihat salah satu foto yang terpampang di kamar tamu, yang rupanya pernah dia kenal. “Ini, lho, foto gadis itu,” kata Hasan sambil menunjuk foto itu.

Bertepatan dengan tangan Hasan menunjuk foto gadis itu, seperti disihir, gadis itu keluar bersama kedua orang tuanya. Hanya beberapa detik, karena setelah itu gadis yang mengenakan celana biru, baju biru, dan kerudung putih itu langsung masuk ke dalam lagi. Saat itu Arifin baru ingat bahwa ia pernah bertemu dengan gadis itu sekitar enam bulan yang lalu, saat ia berceramah di Depok. Kali ini Arifin benar-benar jatuh cinta. Sejak kedua kalinya bertemu gadis itu, ada perasaan yang aneh di hatinya. Bayang-bayang gadis kerudung putih itu terus mengusik kesendiriannya. Tapi, berbeda dengan kebanyakan muda-mudi lain, ia menyampaikan perasaan hatinya kepada Sang Maha Pencipta. Setiap kali bangun malam, ia langsung bersujud dan bersimpuh di hadapan-Nya. Sambil berdoa ia menangis dan memohon petunjuk agar diberikan pendamping hidup yang terbaik untuknya. Selama ini, ia memang selalu memanfaatkan sepertiga malam yang terakhir untuk-Nya. Hanya, kini kualitas dan kuantitas penghambaannya kepada Allah itu kian ditingkatkan.

Setiap malam ia salat malam delapan rakaat ditambah witir tiga rakaat. Memasuki hari kesebelas, ia tiba-tiba mengalami kelelahan yang luar biasa hingga ia pun tertidur. Di tengah kelelapan tidurnya, ia bermimpi seolah menjalankan ibadah umroh bersama gadis itu tepat tanggal 1 Muharam. Arifin percaya, mimpinya kali ini bukan sekadar kembang tidur. “Ini adalah petunjuk Allah yang Arifin terjemahkan untuk menikah tanggal 1 Muharam,” tegasnya. Pagi-pagi, usai salat subuh, ia langsung menelepon gadis itu. “Aku Muhammad Arifin Ilham,” katanya memulai pembicaraan. “Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kamu. Pertama, aku ingin menikah dengan kamu tanggal 1 Muharam. Kedua, niatku ini karena Allah. Ketiga, karena sunah Rasul. Keempat, aku ingin terbang ke langit. Cuma sayang, sayapku cuma satu. Bagaimana kalau salah satu sayap itu adalah kamu? Kelima, aku butuhkan jawabanmu besok pukul 5 pagi.” Gadis itu terduduk lunglai. Berbagai perasaan menyelimuti kalbunya. Di satu sisi ia merasa tersanjung dan bahagia, tapi di sisi lain ia juga merasa sedih dan khawatir.

Bagaimanapun, ia belum mengenal lelaki itu, walaupun ia seorang ustad. Sebagai gadis, selama ini ia belum pernah pacaran atau pergi berduaan dengan lelaki. Selain tidak suka pergi-pergi iseng, pendidikan ayahnya pun sangat ketat. Sudah beberapa kali ia dilamar, tapi selalu ditolak oleh kedua orang tuanya. Karena itu, awalnya ia gamang saat ingin menyampaikan lamaran Arifin itu.

Apa boleh buat, lamaran ‘mengagetkan’ dari ustad muda itu harus segera dia sampaikan kepada kedua orang tuanya, karena esok subuh sudah ditunggu jawabannya. Untunglah kedua orang tuanya menyetujuinya. Saat esok harinya, pukul 5 pagi, Arifin telepon dan yang menerima Yuni sendiri, ia yakin lamarannya bakal diterima. Satu bulan kemudian, tepat tanggal 1 Muharam (28 April 1998), Arifin dan Yuni menikah di Masjid Baiturrahman di Kompleks DPR Kalibata. Dua sejoli ini ternyata banyak kesamaannya. Antara lain, Arifin maupun Yuni adalah alumni Pesantren Darunnajah dan Universitas Nasional. Hanya tenggang waktu mereka yang berbeda. Kedua kakek mereka sama-sama memiliki pesantren, yang namanya juga sama, Darussalam.

Sumber : Renungan kisah Inspiratif.

Jika dipikir-pikir, banyak sekali pasangan yang menikah setelah berpacaran selama bertahun-tahun dan sudah bergonta-ganti pasangan, tapi toh akhirnya rumah tangga nya juga menghadapi badai. Hubungan yang lama terjalin bukan jaminan rumah tangga akan baik-baik saja karena tidak ada yang bisa menebak kemana angin membawa bahtera tersebut.

Tapi, coba diflashback dari cerita-cerita orang dahulu yang dijodohkan dan langsung dinikahkan. Banyak bukti bahwa rumah tangga mereka awet hingga akhir hayat. Hal ini sejalan dengan konsep Islam tentang pernikahan yang hanya diawali dengan ta'aruf dan langsung menikah. tentu saja ini harus dibedakan dengan asal pilih seperti membeli kucing dalam karung. Proses ta'aruf antara ikhwan dan akhwat sudah dipertimbangkan keseimbangan antara keduanya, baik dari segi agama, segi ekonomi, dan dari segi-segi lain.

Kalau begitu, qt sebagai generasi muda mau mengambil contoh yg mana. mau memilih yang sesuai dengan syariat, atau malah terjerumus pada maksiat yang bernama 'pacaran'.

Smoga Allah membukakan pintu hati kita untuk menerima cahaya dien Islam. Amiin.